Minggu, 03 Februari 2008

SELAGI ADA KESEMPATAN!

SELAGI ADA KESEMPATAN !

( Helvy Tiana Rossa : Hari-hari Cinta Tiara )

“ Hup ! “

Dengan seenaknya Vidi melompat ke motor seorang tukang ojek. “Pegang kencang-kencanglah, nanti kalo jato pula anak orang, cemmana nasib awak_awak pula yang kena!”, tutur si Abang. “Veteran Bang ! cepat sikitlah !”, dan motor ojekan itu pun melaju.

Tak berapa lama Vidi telah tiba di depan rumahnya. Belum lagi membuka pintu pagar, Vidi sudah melepas jilbab putih yang sedari tadi dia kenakan. “Gerah ‘kali”, batinnya. Dengan ringan kemudian ia melangkah masuk ke halaman. “Vidiii..! Vidi ??? As…salaam…as..”. “ Hai, Rizal !”, Vidi membalas sapa Rizal yang lewat di depan rumahnya. Jilbabnya ia lambaikan kearah Rizal dengan riang. “ Tak mampir dulu ?”

Rizal hanya ternganga. Mulutnya membentuk huruf O !, Ketua OSIS Madrasah Aliyah Negeri Medan itu pun buru-buru berlalu.

Bukan mau Vidi sekolah di Madrasah Aliyah Negeri itu. Tapi mau bagaimana lagi ? ia tak berhasil masuk ke SLTA Negeri yang ada di Rayonnya. Akhirnya ia pun’ terpaksa’ mengikuti tes untuk masuk MAN. Mamak dan bapak yang menyuruhnya!.

“ Dari dulu bapak lebih suka kau sekolah di Aliyah, lulus itu terserah kaulah, meski bapak lebih suka lihat di IAIN, paham Agama_lagi berbudi jadi ustadzah seperti si mamak”, nasihat bapak waktu itu.

“Kalu perlu lebih lagi dari mamak. Pigi ke Arab sana. Paling tidak begitu pulang, Al-Quran kau punya !’’, mamak nimbrung menasihati putri tunggalnya itu. Huh norak ! kuno !!Tetapi akhirnya ya seperti itulah , Vidi masuk MAN. Seminggu, dua minggu, sebulan sekolah disana Vidi selalu pergi dan pulang sekolah dengan wajah bertekuk-tekuk. Dia kesal sekali! Setiap ke sekolah dia harus mengenakan jilbab!, hal yang sejak dulu disuruh oleh bapak dan mamak, namun selalu ditolaknya mentah-mentah, kini menjadi kewajiban di MAN itu.

“ Vidi tau itu wajib, Vidi mau!, tapi nanti_mak nanti ! kalau Vidi sudah married atau kalau sudah tua !”, katanya kepada mamak dan bapak waktu itu.

Sekarang sebodo amat, pikir Vidi. Begitu keluar dari pintu gerbang Madrasah Aliyah itu, sering ia langsung membuka jilbab yang dikenakannya. Dan hanya beberapa teman saja yang memandangnya keheranan. Yang lain banyak yang melakukan hal yang sama dengan Vidi!.Ada Rita, Rini, Rumondang, si Butet, Tati, Ipah, Nisa, Khoir, dan banyak lagi anak-anak ‘modern’ lainnya. Mereka juga masuk MAN karena merasa terpaksa, sekali lagi terpaksa!

“ Alaah..peduli apa..Lihat saja ‘kak Rena dan ‘kak Glena, tetangga dekat rumahku tiu. Biar kuliah di IAIN, kalu di rumah atau pergi kemana-mana tak pernah pakai jilbab!, cuma kalau kuliah!. Nisa si Anak Pesantren juga begitu!, lagian…”, Butet tak meneruskan kata-katanya.

“Apa ‘Tet ?”, tanya Vidi. “ Ssst..he..he..he…, nggak boleh tuh sama pacarnya !’’. ‘’ Hua…ha..ha..ha.. ‘’, tawa mereke serempak.

‘’ Eee…anak Madrasah mana boleh ketawa ‘ngakak macam itu? “, mimik Rita pura-pura menegur.

« Huu..suka-sukalah ! »

« Aku suka kamu Vidi ! »

Itu kata Ramli sebulan yang lalu, kakak kelasnya di Madrasah alias si Wakil Ketua OSIS. Lumayan lah orangnya.

« Boleh, malam minggu ke rumahmu ?”

“ Jangan senekad itu dulu. Kau tahu kan bapakku Ustadz, mamakku Ustadzah. Mereka bilang pacaran itu gak boleh, itu tak islami. Maklum, namanya orang jaman dulu…”

“ Lalu bagaimana ? “

“ Kalau mau jumpa, di rumah si Butet saja”, usul Vidi.

Dan bagi Vidi kemudian, bukan masalah kalau banyak temannya di sekolah yang tahu ‘affair’nya dengan Ramli Siregar. Juga ketika Fatimah teman sebangkunya, yang berjilbab rapih dan berwajah teduh itu menasehatinya.

« Urus saja dirimu sendiri, Fatimah ! », tukas Vidi ketus. Butet disampingnya turut memanas-manas !.

« Astaghfirullah, buksn begitu Vidi !, aku hanya sayang kamu. Aku ingin kamu menjadi wanita yang mengerti hakikat nilai muslimah. Harusnya… »

« Diam ! mulutmu macam mamak-mamak saja ! »

Kesal, benci, keki, bermacam rasa tentang teman sebangkunya itu ada di dada Vidi. Sebal!; Mengapa aku harus sebangku dengan orang yang sok alim itu, pikrnya.

Tempo hari Fatimah menasehatinya soal jilbabnya yang ‘berkibaran’ kemana-mana itu, kemudian soal beberapa majalah musik dan mode yang dibawanya ke sekolah, dan kini ikut campur masalah pergaulannya , Huh!

“ ‘Fat!, kalau kamu mau melihat aku bersikap seperti kamu, tunggulah lima puluh tahun lagi! Kalau sudah nenk-nenek!”, pernah vidi berkata seperti itu. Kasar sekali memang. Habis Fatimah kuno dan menjengkelkan !, ya meski ia tetap ramah dan baik kepada Vidi.

“ Vid, ini ada srat panggilan ke ruang guru! »Ups ! suara Butet mengagetkannya !.

« Kau akan mewakili Madrasah dalam Musabaqah Tilawatil Quran tingkat SLTA sekota Medan. Semua guru sepakat kau adalah yang terbaik yang kami punya », kata Mudir Aliyah sore itu. « Selamat berlomba Vidi ! »

Vidi tersenyum cerah..

Sejak dulu, sejak SD ia kerap menjuarai MTQ. Bukan cuma suara dan lantunan nadanya saja yang bagus, ia menguasai seluk beluk tilawah yang baik dan benar. Tahu betul Makhrojil hurufnya. Mamak dan baoak yang mengajarkan. Dan Vidi bangga. Banyak temannya yang bahkan berjilbab rapi seperti Fatimah atau Rian yang kalah bagus dengannya kalau untuk urusan membaca Quran yang baik dan benar. Sungguh !

« Biar gini-gini aku jago baca Quran kayak Mel Shandy. Biar Rocker tapi …Weiss! Qoriah! Ha..ha..”, ujar Vidi riang. Ramli dan Butet nyengir ikutan bangga. Apalagi ketika seminggu kemudian Vidi memenangkan MTQ tersebut. Wuihh..

« Al-Quran tak hanya untuk dilombakan seperti itu, tetapi untuk dipahami, dihayati, dan diamalkan. Aku berdo’a kepada Allah agar kau mendapat hidayah –Nya, Vidi », kata Fatimah begitu mendengar tentang kemenangan Vidi tersebut. « Apalagi…kamu anak Madrasah. »

Vidi cemberut. Perkataan Fatimah mirip sekali dengan yang dikatakan bapak dan mamak.

“ Kapan kamu berubah Vidi ? mencintai Islam dengan sepenuh hatimu. Mencintai Allah dan Rosul diatas segalanya ?, Masya Allah, Vidi, kamu bisa berbuat banyak dari sekedar ikut MTQ”, kata Fatimah lagi.

Entah kenapa lama-lama Vidi agak terharu juga mendengar kata-kata Fatimah itu.

“ Aku kan berubah, akan !, tetapi tidak sekarang. Selalu masih ada tahun-tahun yang akan datang. Aku juga ingin serius menjalankan agama ini, tetapi aku belum mampu ».

Fatimah memandang Vidi dalam.

« Oke, aku majukan target deh..Tidak usah lima puluh tahun lagi. Kelak bila aku sudah menikah aku akan pakai jilbab dan berlaku manis ». Vidi tertawa lagi.

« Eh sama ! aku juga !, masih ada hari esok ‘kan ? ujar Butet nimbrung.

Minggu akhir November itu, Vidi benar-benar ceria. ‘Gang’nya Vidi, si Butet, Rita, Ipah, Khoir, Rumondang, Tati, Dita, dan Rini menghabiskan waktu di Brastagi. Minggu itu mereka benar-benar refreshing dari tugas-tugas rutin di Madrasah. Mereka pun menikmati pemandangan Brastagi yang indah, foto-foto, dan kenalan sama beberapa pengunjung disana, utamanya yang cowok-cowok !

Butet tampak begitu gembira. Seketika ia tampak begitu akrab dengan Tigor dan Har yang baru saja dikenalnya. Yang lain masih asyik memotret. Vidi santai membaca majalah remaja yang baru saja dibelinya. Wah.. hawa Brastagi benar-benar sejuk ».

Jam sudah menunjukan pukul tiga ketika mereka bersiap-siap untuk pulang. Lumayan jarak Brastagi dan Medan !, mereka tak mau ambil resiko kemalaman. Iii… a[palagi Vidi dan Butet yang perginya ‘ngumpet-ngumpet.

Semua sudah berkumpul di tempat yang telah ditentukan sebelumnya. Tetapi Butet tak ada !!

« Kemana pula sih orang itu ? centil sekali !”, suara Rumondang gusar dan ceplas ceplos.

« Aku kira kamu bersamanya, Mondang. Tadi ‘kan kamu dan Butet ngobrol-ngobrol sama dua cowok itu », kata Vidi sedikit resah.

« Iya.., tapi kemudian mereka bertiga pergi.Aku ‘nggak ikut ! ».

« Kemana Mondang ? ».

« Mana ku tahu ? restoran barangkali ! ».

Dada Vidi berdebar keras. Ia mulai cemas.

Satu jam kemudian Butet belum juga kembali. Teman-teman yang lain takut kemalaman.

« Mungkin sudah pulang ‘Di, kita jalan saja lah ! », kali ini suara Rita dan Khoir.

« Tidak !!, Butet mana berani pulang sendiri ? harus ada aku yang mengantarnya, kalau ia tak mau kena marah mamaknya », tegas Vidi.

« Kita berpencar dua-dua mencarinya. Satu jam lagi semua sudah ada disini kembali ! ».

Bersama Rita, Vidi mencari Butet. Menjelajahi jalan-jalan indah disekitar Brastagi. Sia-sia. Butet tak ditemukan jua !.

« Kalau kesana-sana mungkin tidak Rit ? »

“ Eee… semak-semak seperti itu mana pernah dilintasi orang!”, tukas Rita. Saat itu mereka sampai diujung jalan keindahan Brastagi. Didepan mereka kini adalah semacam belantara dengan jalan terjal yang mendaki.

“ Ya…Allah! ”, Vidi berjongkok dan memungut sesuatu.

“ Apa ? «

« Ini saputangan Butet ! aku memberikannya saat ia ulang tahun ! Rita , pasti ia sempat berada disekitar sini », suara Vidi agak gemetar.

« Kita kembali saja Vidi, sudah sore ! teman-teman pasti sudah menunggu ! ».

« Tidak !! kita akan kesana », tangan Vidi menunjuk belantara dihadapan mereka.

« Aku.., aku..takuut.. ! »

Vidi menarik tangan Rita. Jantungnya berdetak lebuh keras. Tak mungkin, tak mungkin dia kesini, bisik hati Vidi. Tetapi…

« Aah… !!!! », Vidi dan Rita berteriak sekeras-kerasnya !

Butet terkapar di semak-semak !, pakaiannya tak karuan! Matanya terbelalak keluar!, sebilah belati menancap di dadanya.

Vidi kian histeris, sementara Rita pingsan.

Sejak kematian Butet, Vidi jadi pendiam dan sering menyendiri. Beberapa kali ia sempat ke kantor Polisi untuk mengidentifikasi beberapa foto preman Medan yang dicurigai pemerkosa dan pembunuh Butet. Ya ! orang yang mengaku Tigor dan Har itu!.

“ Ajal seseorang itu seperti yang ditakdirkan Allah. Kita tak pernah tahu kapan ia datang, tetapi pasti tiba. Mungkin lima puluh tahun lagi..mungkin sekarang sepulang kita dari sekolah. Allahu a’lam. Siapa yang menyangka tak ada lagi hari esok untuk Butet », ujar Fatimah sedih.

Vidi diam saja. Ia tak bisa melepaskan bayangan Butet saat dengan bangga Butet menunjukan baju mini tak berlengan itu.

“ Cantik ‘kan ? kembang-kembang dengan warna dasar Peach!”, ujar waktu itu.

“ Kalau aku sih ‘nggak berani pakai baju seperti itu. Wah.., apalagi kalau mamak dan bapak lihat, bisa dibilas habis lah!”, tukas Vidi.

Dan mereka berdua tertawa. Baju itu pula yang dipakai Butet saat tragedi berdarah itu terjadi!.

Ups ! Vidi mencoba memejamkan mata. Bayangan Butet tak bisa hilang. Astaghfirullah…dimana, bagaimana, apa yang dialami Butet sekarang dialam kubur? Apa…apa yang…, Astaghfirullah. Siapakah yang tahu akan ajal seseorang?.

Bagaimanakah kalau ia esok mati?

Vidi gemetar. Malam itu ia shalat Isya lama sekali. Saat tilawah Quran Vidi menangis!, hal yang belum pernah ia lakukan sebelumnya.

Sudah dua hari ini Fatimah tidak masuk sekolah. Katanya sih cuma demam. Yang jelas Vidi merasa kehilangan. Akhir-akhir ini ia merasa membutuhkan Fatimah. Ia butuh mendengar kata-kata bijak, nasihat, kecaman, atau apa saja lah dari Fatimah. Hari ini ia ingin sekali bercerita kepada Fatimah bahwa hubungannya dengan bapak dan mamak sudah semakin baik dan indah. Juga tentang rencananya hari ini untuk memutuskan hubungan dengan Ramli Siregar. Tentang surat “PHK” yang dikirimkannya untuk anak itu. Lalu tentang rencananya untuk memakai jilbab tahun depan!, ya..satu setengah bulan lagi!

Entahlah.., kata mamak Allah memang Maha Pembolak Balik Hati. Mungkin saat ini Vidi merasa mendapat Taufik dan Hidayah-Nya. Astaghfirullah…, tadi pagi Vidi membaca berita di koran tentang gunung Merapi yang meletus tiba-tiba!. Tak ada yang mengira!. Badan Vulkanologi pun terkejut. Ribuan orang terluka dan kehilangan harta, tempat tinggal, juga nyawa!. Innalillahi!. Kemudian berita tentang Bosnia. Wajah sendu muslimah-muslimah kecil yang rapi beljilbab itu terekam jelas dalam ingatannya…, wajah Butet….!

“ Vidi, kamu lain sekarang!”, sapa Rumondang mengejutkan Vidi.

Vidi tersenyum. “ Lain apanya sih?, sama saja!”.

“ Lebih alim! Ha..ha..ha..”, Rumondang, Rita, Ipah serempak menjawab.

“ Ooo.. aku cuma merenungi hakikat kehidupan yang fana ini. Mungkin sudah saatnya untuk lebih dekat dengan sang Pencipta”, ujar Vidi.

“ Oh iya, aku mau menjenguk Fatimah nih…ada yang mau ikut?”.

“ Tumben Di, biasanya kamu senang kalau dia tak masuk!”, protes Ipah.

“ Siapa bilang?, aku kangen!”

Ala mak.., cuma sakit panas. Besok juga masuk!”, tukas Rumondang.

“ Benar Fat ! tahun depan aku mau berubah!, mau pakai jilbab, nggak cuma kalau sekolah! Kaffah!!”, seru Vidi antusias.

Fatimah tersenyum. “ Alhamdulillah…”, wajah pucatnya terlihat sangat gembira. “ Satu setengah bulan lagi ya ‘Di ?”.

“ Iyalah sebentar lagi!”, Vidi tertawa. “ Siregar pun sudah aku putusin. Aku mau konsentrasi sekolah dan mulai mendalami agama”.

“ Alhamdulillah…”, sahut Fatimah lagi. “ Maaf, jam berapa sekarang Vidi ?”.

“ Udah masuk Ashar!”

Tak lama tante Lubis, mamak Fatimah membimbing Fatimah ke kamar mandi.

Vidi juga segera berwudlu dan berjamaah dengan tante Lubis. Mamak Fatimah yang cantik ini pun berjilbab rapi sekali. Selesai shalat Vidi baru ingat, masya Allah..ia ada janji dengan mamak dan bapak untuk pergi ke rumah Nek Banun!.

Vidi masuk ke kamar Fatimah kembali. Ia mau pamit, tetapi tampaknya Fatimah tertidur. Ah..bukankah ia baru saja shlat ?

Vidi maju beberapa langkah mendekati Fatimah. Ia tidak mau mengganggu tidurnya, hanya saja entah mengapa Vidi ingin menggenggam tangan Fatimah sebelum pulang ke rumah. Digenggamnya erat tangan Fatimah. « Cepat sembuh, semoga Allah menyembuhkanmu, Amin », Do’a Vidi.

Vidi seperti merasakan keanehan. Sepertinya…sepertinya…Fatimah tak bernapas lagi!! Bagaimana? Bagaimana bisa? Atau…

“ Tante Lubis !!”, suara Vidi tersekat di kerongkongan. « Fatimah… !! apa dia… »

Tante Lubis menghampiri Fatimah, memeriksanya sebentar. Wajah tulusnya tampak sedih. Setitik air matanya jatuh. « Innalillahi Wainna Ilaihi Raji’un.. », lirih suara tante Lubis.

Vidi tercengang !! Fatimah !!, bagaimana mungkin ?, baru saja mereka bercakap-cakap, baru saja Fatimah berwudlu, baru saja…dan Ya Allah !! Fatimah hanya demam ! Hanya sakit panas, mengapa bisa mati ???

Butiran air mata deras Vidi mengalir. Tante Lubis memeluknya erat. Isak mereka hampir berbarengan. Siapa yang menyangka Fatimah akan…. Maafkan kesombongan hamba, Astaghfirullah….kata Vidi berulang kali pada diri sendiri.

Aku akan pulang dan berubah. Sekarang Fat, selagi ada kesempatan untukku!. Aku akan menjadi muslimah yang baik. Aku akan pakai jilbab itu, tidak tahun depan!. Walau tahun depan tinggal tinggal satu setengah bulan lagi, aku jadi tak yakin akan hidup selama itu. Aku bahkan tak yakin apakah masih ada hari esok untukku…

Air mata Vidi kian deras. Ia akan berubah ! Sekarang !! Detik ini jua !! sudah terlalu banyak pelajaran di depan matanya.

“ Aku datang Ya Allah tanpa mau bermain-main dengan-Mu barang sekejap pun, selagi ada kesempatan. Ya !, kesempatan yang Kau berikan kepadaku !, Bismillah… »

Esok harinya ada Vidi Jihadi yang lain di Madrasah Aliyah Medan yang bertekad kuat menjaga citra dirinya sebagai Muslimah, sebagai anak Madrasah !.

*******

Tidak ada komentar: